Riba nasiah adalah riba yang disebabkan karena adanya penundaan, baik itu kelebihan maupun tanpa kelebihan. Riba Nasiah berasal dari kata nasi’ yang artinya penundaan. Adapun penjelasan tentang riba nasiah tertulis dalam hadist dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika emas dibarter dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum bur (gandum halus) ditukar dengan gandum bur, gandum syair (kasar) ditukar dengan gandum syair, korma ditukar dengan korma, garam dibarter dengan garam, maka takarannya harus sama dan tunai. Jika benda yang dibarterkan berbeda maka takarannya boleh sesuka hati kalian asalkan tunai” (HR. Muslim 4147).

Disebutkan didalam buku “riba di sakumu” karya ustadz ammi nur baits, dijelaskan bahwa maksud kata ‘penundaan’ pada riba nasiah bentuknya ada 2 macam

Pertama : Riba karena penundaan disebabkan utang

contohnya : si romy berhutang kepada budy senilai 2 juta. karena si romy baru bisa mengembalikan uangnya budi bulan depan maka romy harus mengembalikan Rp 2.300.000 kepada budi, karena uang 2 juta tertunda di tangan romy selama sebulan

kedua : Tukar menukar barang ribawi yang sejenis atau yang satu kelompok tapi tidak tunai

Contohnya : Si romy mempunyai uang Rp 100.000, ia menukar uang kepada budi dengan pecahan Rp30.000 +Rp 50.000 tetapi uang Rp20.000 tertunda besok meskipun tanpa kelebihan.

Para ulama sepakat barang ribawi dibagi 2 kelompok :

  1. kelompok pertama : Emas,perak, mata uang, semua alat tukar
  2. kelompok kedua : Bur, Sya’ir, Kurma, Garam & Semua bahan makanan (beras, jagung, thiwul)

Allahu a’lama